Dekadensi Kaum Intelegensia
Jumat, 11 November 2010 - 10:11:06 WIB
Diposting oleh : Hari Setya Budi A.Md
Kategori: Pendidikan - Dibaca: 560 kali

Dulu mahasiswa skeptis terhadap birokrasi beserta segenap eksponennya, sekarang banyak yang skeptis terhadap intelektualitasnya. Pesimisme yang sungguh premature. Semakin pesimis saya dengan kaderisasi di masa datang.

Saya pernah membaca sebuah tulisan di media masa nasional yg isinya tentang keprihatinan terhadap peran mahasiswa saat ini. Dikatakan bahwa mahasiswa sekarang sama seperti mahasiswa jaman orde baru. Disibukkan dengan urusan bangku kuliah, terlalu sibuk. Fenomena semacam ini sama artinya dengan menidurkan sisi kemanusiaan kaum intelegensia, dengan cara berbeda.

Namun kemudian saya membantah pendapat dalam media masa tersebut, saya mengirim pesan kepadanya tentang ketidaksetujuan saya. Karena banyak rekan mahasiswa yang tergabung dalam BEMSI, FL2MI, BEM-Nusa, dan sebagainya yang tidak henti-hentinya mengintegrasikan kepedulian kaum intelegentia. Manifesto pergerakan mahasiswa.

Ternyata pendapat saya tidak cukup representative. Berapa banyak jumlah mahasiswa yang sama sekali tidak peduli dengan isu-isu negerinya. Tidak jarang ditertawakan ketika mencoba membuka diskusi ini itu tentang isu nasional maupun daerah.

Sebagian beranggapan bahwa mahasiswa jurusan seni hanya boleh berbicara tentang seni, hanya tahu tentang seni. Saya menyebut mahasiswa model ini sebagai mahasiswa cap kambing, takut terkena air karena terbiasa di darat.

Sadarlah, tidak perlu pernah ke Amerika untuk bisa mendefinisikan Patung Liberti. Skeptis dan pesimisnya mereka terhadap kemampuan intelektualitasnya. Malah ada yg melakukan intervensi menuntut keseragaman dan kompatibilitas bidang.

Saya nyatakan “TIDAK”. Kalau dulu Soe Hok Gie berpendirian “Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan”, sekarang saya tegaskan pendirian saya “Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap intervensi tuntutan keseragaman”. Memang begitu konsekuensi kaum minoritas.

Dengan demikian lagi-lagi kita disuguhi kenyataan “Negara adalah urusan generasi tua”.  Sampai kapan generasi muda cacat kepeduliannya. Apapun bentuk kepeduliannya terhadap masa depan bengsanya, akan mendapat apresiasi tinggi dari seluruh kompiler integritas nasional.

Dapat diambil pelajaran bahwa menegakkan kebenaran yang tidak lazim, akan dicemooh kelompok kecil yg berseberangan. Namun ketika kebenaran itu ditindas kelompok kecil tersebut, suara nasional lah lawannya. Contoh nyata: kasus Prita, Bapak Indra, Soe Hok Gie, dan masih banyak lagi yg lain.

Jangan takut menyuarakan yang tidak salah. Bukan karena akan mendapat dukungan nasional, tapi karena tidak ada alasan untuk membungkam mulut idealis yg plural meskipun itu minoritas. Jika berpendapat bahwa mahasiswa jurusan seni hanya boleh berbicara tentang seni, pulang saja ke dapur.