Rangkaian Acara Konvensi Lingkungan Hidup
Senin, 07 Februari 2011 - 14:08:52 WIB
Diposting oleh : Hari Setya Budi A.Md
Kategori: Kampus - Dibaca: 691 kali

UCY – Dilatarbelakangi keprihatinan terhadap meningkatnya gejolak yang berkaitan dengan iklim di dunia, Sabtu, 5 Januari 2011, Universitas Cokroaminoto mengadakan Konvensi Lingkungan Hidup dengan tema: Adaptasi Pemanansan Global/ Perubahan Iklim dan Antisipasi Dampaknya dalam Berbagai Aspek Sosial.

Konvensi dihadiri oleh pejabat instansi terkait maupun akademisi dan dilaksanakan di gedung auditorium UCY. Konvensi ini ditandai dengan penanaman pohon, penanda-tanganan prasasti serta persemian Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Energi Universitas Cokroaminoto Yoogyakarta oleh bapak Menteri Lingkungan Hidup RI. Selain itu, konvensi juga berisi seminar sehari yang menghadirkan sejumlah pembicara ternama, yaitu: Prof. Dr. Gusti M. Hatta, MSc. (Menteri Lingkungan Hidup RI), Prof. Dr. San Afri Awang, MSc. (Staf Ahli Menteri Kehutanan), Ir. Nurokhman, MT (Dosen UCY), Wahyu Yun  Santoso , SH. M.Hum, LLM (Dosen UGM)

Dimulai pukul 13.00, acara diawali presentasi makalah dosen UGM, Wahyu Yun Santoso, dengan tema bahasan mengenai tantangan hukum nasional dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Dosen yang akrab disapa Pak Yun ini menuturkan perlunya peran dan payung hukum dalam mengatasi perubahan iklim sebagai perlindungan bagi upaya mengurangi dampak yang dapat diakibatkan oleh perubahan iklim.

Pembicara kedua pada acara tersebut adalah Ir. Nurokhman, MT, dosen teknik sispil Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Beliau menyoroti pengurangan resiko bencana sedimen melalui upaya mitigasi partisipatif. Menurutnya, Indonesia merupakan daerah dengan potensi bencana sedimen merata di hampir seluruh daerah. Untuk itu perlu adanya upaya bersama yang melibatkan pemerintah, swasta, maupun masyarakat dalam penanggulangan dampak-dampak yang diakibatkan bencana, seperti longsor dan banjir bandang.

Pembicara ketiga adalah, Prof. Dr. San Afri Awang, MSc. Staf ahli menteri kehutanan ini menyoroti sikap Indonesia terhadap perubahan iklim. Saat ini, tercatat penyumbang emisi terbesar dunia adalah dari penggunaan barang-barang elektronik diikuti pembakaran bahan bakar fosil dan industri. Sebagai salah satu negara dengan luas hutan terbesar dunia, diharapkan Indonesia mampu berkontribusi dengan menjaga kondisi hutan, karena berpotensi mampu menyerap gas emisi dunia.

Pembicara terakhir adalah Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Gusti M. Hatta, MSc. Beliau menyebutkan bahwa emisi bahan bakar fosil dan kerusakan hutan sebagai ulah tangan manusia yang mengakibatkan efek rumah kaca. Kegiatan pabrik, pembangkit listrik, perumahan, kendaraan bermotor dan kebakaran hutan merupakan kegiatan yang dilakukan manusia.

Terhadap perubahan iklim, selain mitigasi, penting pula upaya adaptasi yang dilakukan bersama-sama oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk mengurangi dampak yang lebih parah pada tahun-tahun yang akan datang. Menurut Menteri Lingkungan Hidup, upaya yang dapat dilakukan dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti membeli produk lokal, mengurangi transportasi tak ramah lingkungan, membudayakan gemar menanam pohon pada warga, membudayakan membawa tas belanja sendiri, tidak membuka lahan dengan membakar, dan mendaur ulang limbah merupakan bagian yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko perubahan iklim.

 Dengan diadakannya konvensi ini diharapkan Universitas Cokroaminoto Yogyakarta mampu melahirkan generasi yang akan berkontribusi pada lingkungan hidup dan mampu mengedukasi masyarakat untuk berlaku hemat dalam menggunakan energi. Adm.